Uminaufal's Blog

Perjalanan panjang yang berliku2 dalam menjalani usaha bersama suami, dari awalnya taman bacaan, cafe kecil2 an hingga usaha busana muslim. Kalau dulu semua usaha dijalankan di rumah orang tua, dengan segala kenyamanan, kekurangan dan kelebihan. Sekarang sudah berpindah ke area publik di pinggir jalan utama yang relatif ramai dari pagi sampai malam. Karena pertimbangan keamanan, kebersamaan dan kenyamanan keluarga, kami  sekeluarga pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke ruko. Yang berfungsi jadi toko, gudang, kantor sekaligus rumah kami. Bagi sebagian orang keputusan kami ini mungkin tidak cukup masuk akal, wong punya rumah koq malah tinggal di toko. Tapi bagi kami sendiri itu ada salah satu jalan terbaik.

Agar toko aman, agar suami tidak was-was saat meninggalkan saya dan anak2 di rumah, dan agar kami bisa lebih fokus dalam mengelola usaha kami. Kalau masalah kenyamanan sih, semua bisa dibuat nyaman, asalkan kami bisa dengan ikhlas menjalaninya. Memang rumah impian dengan suasana yang asri sangat menjadi dambaan, tapi sementara ini cukuplah, satu ruangan yang nyaman untuk kami beristirahat kala malam. Anak2 pun masih bisa bermain dan belajar seperti sedia kala. Malah dengan tekad yang kuat, anak2 bisa lebih rutin shalat maghrib berjamaah bersama abinya, lanjut mengaji. Kalau sebelumnya malah tidak bisa, karena saat maghrib, anak2 di rumah, abinya masih di toko.

Ini nih lantai bawah yang difungsikan sebagai outletnya Butik Naufal

Ini nih lantai bawah yang difungsikan sebagai outletnya Butik Naufal

Baca entri selengkapnya »

Kalau jaman2 saya sekolah nih ya (tahun 90an lah) kemah itu kalau ngga di sekolah ya didaerah yang deket2 hutan atau kebon gitu. Tapi jaman sekarang sih sepertinya kondisinya sudah berubah. Banyak yang menjadikan bumi perkemahan/ camping ground sebagai lahan bisnis. Akhirnya banyaklah di buka bumi perkemahan baru dengan segala macam fasilitas. Biasanya banyak di area wisata pegunungan atau pantai. Baru2 ini sih saya ke pantai Tanjung Lesung dan ada fasilitas camping ground nya juga. Untuk yang ingin mengenalkan suasana alam kepada nak dengan berkemping, fasilitas2 ini bisa jadi pilihan ya..Karena biasanya dari pemilik area sudah menyediakan tenda dan berbagai fasilitas lainnya (termasuk katering).

Nah, ternyata nih ternyata, di daerah yang dekat tempat tinggal saya (Balaraja), ada juga camping ground yang baru di buka. Arenaya terletak di kampung Kalapa ds Sindang Jaya. Tepatnya di area rumah makan dan pemancingan Kampoeng Kalapa, manteb banget kan yaa…Bumi perkemahan di rumah makan :D Kalau lapar tinggal pesan. Tapi tempatnya oke punya lohh, selain letaknya yang masih di perkampungan, area sekitarnya masih sawah dan tepat berada di jalur aliran irigasi. Jadi kalau mau ada acara jelajah alam selama perkemahan masih bisa lah, asalkan sudah ada izin dari desa setempat.

Selain itu areanya lumayan luas, pas pertama di buka langsung dipakai untuk perkemahan Sabtu Minggu sekitar 1300 Pramuka se kecamatan Cikupa Tangerang, ada fasilitas kamar mandi dan toilet yang mencukupi. Hanya saja untuk tenda sepertinya masih harus bawa sendiri. Udara sekitar pun masih segar dan bersih, karena relatif jauh dari jalan raya maupun pabrik. Akses dari jalan raya utama (Jl Raya Serang) gampang banget, kalau dari arah Jakarta keluar tol Balaraja Timur, terus putar arah ke arah Tangerang, belok kiri pas di Indomaret sebelum perumahan Talaga Bestari, cukup ikut saja jalan utamanya, nanti ketemu saluran irigasi dan belok kanan. Sampai deh di lokasi, paling 5 menit saja dari jalan utama.

 

 

Liburan yang tidak direncanakan, karena tiba2 merasa suntuk dan butuh sedikit kelegaan. Akhirnya diputuskan untuk berlibur ke pantai Tanjung Lesung di Pandeglang Jawa Barat. Sebenarnya sdh sejak lama pengen ke sana, tapi karena jarak tempuhnya yang lumayan, akhirnya beberapa kali rencana ke sana batal.

Berangkat pagi2 jam 7 (estimasi 3.5 jam perjalanan) dari Balaraja Tangerang. Sampai tujuan jam 11.30 siang. Pas banget estimasinya, jalanan lancar dan jalan raya menuju lokasi juga sdh relatif bagus. Serunya lagi, sepanjang perjalanan pun sebenarnya kami sdh menyusuri garis pantai Selat Sunda. Setibanya di tujuan, gerbang tempat wisata ini terlihat teduh dengan apitan pohon rindang di kanan kiri jalan. Pinggir pantainya pun masih terasa adem.

Begitu lihat air lautnya yang jernih dan batu2an coral yang terlihat jelas dari permukaan, keinginan untuk nyemplung pun makin menggebu. Maklum saja, beberapa kali ke pantai saya belum pernah nyemplung ke laut. Senangnya lagi, anak2 pun (Naufal, Hanif dan Yusuf) tampak begitu menikmati bermain air, diantara deburan ombak kecil pantai Ujung Barat pulau Jawa ini. Padahal anak2 saya ini biasanya agak phobia sama air, diajak berenang di kolam renang pun seringkali ngga mau nyemplung.

Suasana pantai yang tidak terlalu ramai, air laut yang bersih dan udara yang segar membuat kami sangat betah bermain di air. Tapi mengingat perjalanan pulang juga panjang, membuat kami tidak bisa berlama2. Jam 1 siang kami sudah harus mulai beres2 dan berganti pakaian. Selesai ganti pakaian, kami pun ak melewatkan kesempatan untuk berfoto di area pantai, yang paling favorit sih di Jetty (yg seperti dermaga kayu). Selain bisa foto2 dengan latar yang bagus, di area sekitar Jetty, pemandangan bawah lautnya indah banget, banyak batu2an coral dan ikan2 kecil yang cantik. Saya membayangkan kalau yg masih di pantainya saja sudah sedindah itu, apalagi di area yang lebih dalam lagi, pasti jauh lebih bagus pemandangan bawah lautnya. Sebenarnya ada sih fasilitas untuk bisa melihat, ada snorkeling, bottom glasses boat dan paket diving, tapi sayangnya ngga bisa berenang jadi ngga berani nyobain. Selain itu, pas kemarin itu kondisinya bawa uang cash ngepas, ternyata di restaurant maupun di penyewaan alat2 sport clubnya tidak bisa bayara pakai EDC, ATM pun jauh.

Saran saya sih kalau pas ke sana bawa saja uang cash yang cukup, kalau tidak sebelum sampai lokasi mampir dulu ke ATM terdekat (kalau tidak salah jaraknya sekitar 3 kM).  Kecuali kalau anda menginap di hotel maupun resort, mungkin di area2 tsb tersedia ATM maupun EDC.

Puas foto2 akhirnya kami pun pulang, jam 3 sore berangkat, sempat nyasar dan berhenti untuk sholat Maghrib, sampai rumah jam 8 malam. Lumayan melelahkan, tapi terbayar dengan suasana yang kami dapatkan. Mudah2an suatu saat bisa balik lagi ke sana.

 

Bulan2 pasca idul fitri tahun ini sungguh jadi bulan2 terberat yang harus kami jalani. Selain berhubungan dengan usaha, ada juga hal2 yang menimpa kami yg dampaknya juga terasa. Dalam jangkan 2 bulan kami mengalami kehilangan/ kemalingan sampai 4 kali, dalam jumlah yang menurut kami lumayan besar. Tentu saja ini berpengaruh pada kondisi keuangan (apalagi pasca lebaran toko masih belum terlalu ramai). Selain itu kami mengalami kurang SDM. Yang tadinya dibantu saudara, secara berbarengan berhenti karena kondisi ekonomi yang sudah mulai membaik dan usaha sendiri yang tentu saja mengharuskan perhatian penuh.  Berikutnya adalah, berhentinya salah satu karyawan senior yang sudah hampir 6 tahun bekerja di tempat kami. Pukulan yang telak memang, apalagi berhentinya dengan proses yang kurang baik, sehingga menimbulkan ganjalan2 di kedua belah pihak.

Tapi bagaimanapun, hal2 yang terjadi tidak membuat saya dan suami menyerah,  kami terus berusaha untuk segera “move on” dan melakukan yang terbaik demi kemajuan usaha kami. Hal2 buruk yang terjadi kami anggap sebagai ujian dan pengingat bagi kami untuk senantiasa memperbaiki diri dan introspeksi terhadap apa2 yang sudah kami lakukan. Harapannya ke depan kami bisa lebih bijak lagi dalam menyikapi berbagai masalah yang terjadi dalam hubungannya dengan pekerjaan, hubungan dengan karyawan, dsb. Meskipun tidak sepenuhnya bisa memahami dengan lapang hati, tapi saya selalu berharap bahwa semua ini akan lebih menguatkan saya. Rasa sakit hati, rasa kesal yang ada mudah2an segera hilang, dengan kesadaran sepenuhnya, bahwa siapalah saya ini sehingga harus merasa sombong dan pantas sakit hati oleh perlakuan orang lain. Baca entri selengkapnya »

Setelah sekian lama, cari2 info tentang homeschooling akhirnya ada juga keluarga (kakak) yang memutuskan untuk memilih meng homeschooling anaknya yg sdh SMA. Gabung ke kelompok homeschooling Kak Seto. Meskipun sepertinya konsepnya lebih mirip memindahkan sekolah biasa ke rumah, tapi setidaknya ada beberapa hal yang tetap bisa diambil untuk pelajaran juga, siap2 kalau nanti mau mulai homeschooling untuk Naufal, Hanif dan Yusuf.

Latar belakang nya sih kalau keponakan saya ini (sebut aja Rahmi) agak susah beradaptasi dengan lingkungan baru, akhirnya Rahmi  sendiri yang minta homeschooling. Kecenderungan Rahmi sendiri juga lebih senang dengan hal2 yang kreatif, melukis, membuat jenis2 kerajinan yg lucu2 (beads, manik2, dll), dan ada ketertarikan apada dunia per “baking”an. Ada pro dan kontranya sih, tapi kalau saya sih memandang dari sisi positifnya saja. Prediksi saya, kalau Rahmi ini punya komitmen dengan apa yang dia ingin lakukan, dalam waktu dekat dia bisa melesat dengan bakat dan passionnya. Di saat anak2 seumuran dia belajar berbagai hal di sekolah (yg mungkin sbenarnya tdk smeuanya penting utk bekal hidup), dia sudah tahu apa yang ingin dia lakukan dan ingin dia kuasai untuk bekal hidupnya nanti.

Pokoknya cayoo deh buat Kakak Rahmi, yang semangat ya belajarnya, kalau perlu nanti kalau mau ikutan kursus yg berhubungan dengan baking2, tante Susi ikutan :)

Mudah2an nanti Naufal juga bisa ikutan homeschooling juga dan Umi nya lebih siap lagi jadi pembimbing utamanya.

 

 

Pasca lebaran, geliat usaha di bidang moslem fashion cenderung menurun, apalagi dibarengi dengan tahun ajaran baru. Tapi meskipun  begitu, tetap tidak mematahkan semangat untuk terus berjuang, malah lebih semangat lagi dengan membuat inovasi-inovasi baru. Selain itu banyak waktu bisa dimanfaatkan untuk memeperbaiki manajemen di toko. Waktu luang juga relatif masih ada.

Alhamdulillah, disela-sela kesibukan mengurus toko, masih banyak waktu bersama-sama anak-anak. Masih bisa terus memantau perkembangan anak-anak. Meskipun kegiatan yg saya lakukan kadang kurang berkualitas, tapi saya masih meyakini itu masih jauh lebih baik ketimbang saya menitipkan anak-anak ke pengasuh. Saya sering terpaku melihat status beberapa teman yang bekerja,

( bukan untuk mendiskreditkan yaa..) yang sering kali bilang, kebersamaan dengan anak kan yang penting kualitasnya bukan kuantitasnya. Atau kalau saya di rumah terus malah sering kali ngga sabaran ngadepin si kecil, ujung2nya ngomel, dan malah waktu bersana anak jadi tidak berkualitas. Kebersamaan dengan anak sepanjang hari memang akan selalu diwarnai dengan berbagai tingkah polah si kecil (apalagi anak saya 3 cowok semua), yang sering kali membuat kita hilang kesabaran. Tapi justru itulah peran kita sebagai Ibu, selalu membimbing si kecil sepanjang waktu, karena seringkali anak belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bahaya mana yang tidak.

Kalau Ibu sendiri tidak mau mengambil peran itu karena bisa jadi tidak sabaran, bagaimana dengan orang lain. Maka kadang jadi masuk akal saja jika seringkali terjadi kekerasan oleh pengasuh terhadap anak.  Wong orangtuanya aja tidak sabar atau tidak punya komitmen untuk mendampingi anak dengan segala tingkah polahnya, bagaimana dengan oranag lain (nanny atau pengasuh)??? Meskipun berbagai tindak kekerasan atau perlakuan yang salah terhadap anak oleh pengasuh tetap  tidak dapat dibenarkan………………

Tapi saya yakin hanya segelintir Ibu2 yang berpikiran spt itu, selebihnya pasti anak adalah segalanya, apapun untuk anak dan akan memberikan yang terbaik untuk anak. Bahkan bagi Ibu yang bekerja pun mereka selalu menyiapkan yang terbaik untuk anak2nya selama mereka bekerja, bahkan mungkin jauh lebih baik dibanding Ibu2 yang mungkin hanya di rumah seperti saya.

 

Ilmu yang tdk diamalkan tidak akan membawa manfaat apa2 bagi yang memilikinya. Tapi sebaliknya ilmu yang diamalkan, diajarkan dan dibagikan, akan memberikan manfaat yang sangat banyak. Agak terenyuh dengan diri sendiri sebenarnya berkaitan dengan kalimat pembukanya. Selama hampir 3 tahun ini saya sedikit banyak mencari berbagai info tentang homeschooling dan berbagai hal tentang home schooling, tapi pada akhirnya apa yg saya baca tak pernah saya lakukan.
Anak sy Naufal yg paling besar saat ini 6 tahun, tetap berangkat sekolah tiap hari (mulai playgroup sampai TK B). meskipun frekusensi bolos juga lumayan tinggi.

Merasa sangat tertohok saat ada teman ortu siswa di TK memutuskan untuk menghomeschoolingkan anaknya, karena merasa kurang cocok dengan lingkungan sekolah yang ada. Lalu saya kapan ya?? Padahal keinginan yang sama sudah ada sejak sekian tahun yang lalu tapi tak kunjung terealisasi juga. Alasan utamanya sih ya klasik, sibuk dengan tanggung jawab usaha dan pekerjaan. Sehingga pada akhirnya keinginan tinggal keinginan.

Saya sendiri sebenarnya takut untuk mengambil langkah besar tsb, karena pada akhirnya, saya takut tak bisa bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak saya. Ketika saya memutuskan utk home schooling, maka otomatis semua tanggung jawab pengasuhan sekaligus pendidikan ada pada saya, tdk terbagi lagi pada guru atau institusi sekolah.
Dan saya merasa tidak siap untuk itu. Karena selama ini waktu saya dan suami hampir sebagian besar habis pada pekerjaan, mengurus perdagangan yang semestinya tak perlu serumit itu, tapi entahlah, sampai saat ini, saya merasa belum bisa cukup adil dan disiplin dalam mengalokasikan waktu untuk anak2 saya. Saya takut justru ketika home schooling yang tujuan awalnya demi kebaikan anak malah justru menjerumuskan anak. Baca entri selengkapnya »

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori

Butik Naufal

Toko Online penyedia busana muslim

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.